Pernah ketemu orang yang baru baca dua artikel di internet, lalu mendadak merasa lebih pintar dari profesor yang sudah puluhan tahun meneliti suatu bidang?
Atau mungkin pernah melihat seseorang yang baru ikut satu seminar investasi, lalu langsung memberikan nasihat keuangan seolah-olah dia adalah gabungan dari Warren Buffett, Robert Kiyosaki, dan dukun pengganda uang?
Kalau pernah, selamat. Anda sedang menyaksikan salah satu fenomena psikologi yang paling menarik di dunia: Dunning-Kruger Effect.
Apa Itu Dunning-Kruger Effect?
Dunning-Kruger Effect adalah fenomena psikologis di mana seseorang yang memiliki kemampuan atau pengetahuan rendah dalam suatu bidang justru cenderung melebih-lebihkan kemampuannya.
Sederhananya:
Orang yang kurang kompeten sering kali tidak cukup kompeten untuk menyadari bahwa dirinya kurang kompeten.
Terdengar seperti lelucon, tetapi ini adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh psikolog David Dunning dan Justin Kruger pada tahun 1999.
Mereka menemukan bahwa semakin sedikit seseorang memahami suatu bidang, semakin besar kemungkinan dia merasa sudah memahami semuanya.
Sebaliknya, orang yang benar-benar ahli justru sering meragukan dirinya sendiri karena mereka menyadari betapa luasnya hal yang belum mereka ketahui.
Analogi Kolam Renang
Bayangkan ada tiga orang berdiri di pinggir kolam renang.
Orang pertama baru belajar berenang satu hari.
Orang kedua sudah berenang selama beberapa tahun.
Orang ketiga adalah atlet profesional.
Lalu ketiganya ditanya:
"Seberapa hebat kemampuan berenang Anda?"
Orang pertama menjawab:
"Saya sudah lumayan jago kok."
Padahal baru bisa mengapung.
Orang kedua menjawab:
"Masih banyak yang harus saya pelajari."
Padahal kemampuannya sudah cukup baik.
Orang ketiga menjawab:
"Saya masih perlu banyak latihan."
Padahal dia sudah memenangkan berbagai kompetisi.
Inilah yang sering terjadi dalam kehidupan nyata.
Semakin sedikit pengetahuan seseorang, semakin sedikit pula alat ukur yang dia miliki untuk menilai dirinya secara objektif.
Mengapa Ini Bisa Terjadi?
Karena untuk menyadari bahwa kita salah, kita membutuhkan pengetahuan.
Masalahnya, orang yang tidak memiliki pengetahuan justru tidak memiliki kemampuan untuk mendeteksi kesalahannya sendiri.
Ibaratnya seperti ini:
Kalau Anda tidak bisa bahasa Jepang, bagaimana cara Anda tahu bahwa terjemahan bahasa Jepang Anda salah?
Anda bahkan tidak memiliki alat untuk memeriksanya.
Akibatnya, seseorang bisa hidup dengan keyakinan penuh bahwa dirinya benar, padahal salah total.
Dan yang lebih menarik lagi:
Rasa percaya diri tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan.
Kadang justru berbanding terbalik.
Dunia Modern Memperparah Kondisi Ini
Di era media sosial, Dunning-Kruger Effect berkembang biak lebih cepat daripada promo diskon tanggal kembar.
Seseorang menonton video TikTok selama 3 menit.
Lalu merasa menjadi ahli politik.
Menonton satu podcast.
Merasa menjadi ahli ekonomi.
Membaca satu thread Twitter.
Merasa menjadi pakar hukum tata negara.
Yang lucu adalah algoritma media sosial sering memberikan penghargaan kepada orang yang paling percaya diri, bukan yang paling benar.
Akibatnya, orang yang paling keras berbicara sering dianggap paling pintar.
Padahal belum tentu.
Seekor ayam yang berkokok paling keras belum tentu memahami teori fisika kuantum.
Walaupun jujur saja, sebagian manusia juga tidak memahami teori fisika kuantum 😂
Efek Gunung Pengetahuan
Ketika seseorang mulai belajar suatu bidang, biasanya dia mengalami fase yang menarik.
Awalnya tidak tahu apa-apa.
Lalu belajar sedikit.
Tiba-tiba merasa sudah tahu segalanya.
Kemudian belajar lebih dalam.
Mulai sadar bahwa ternyata ilmunya sangat luas.
Lalu semakin rendah hati.
Dan semakin belajar lagi.
Semakin sadar bahwa dirinya masih banyak kekurangan.
Ironisnya, perjalanan menuju kebijaksanaan sering dimulai dari kesadaran bahwa:
"Ternyata selama ini gue banyak nggak tahunya."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi justru merupakan tanda kemajuan intelektual.
Apakah Semua Orang Mengalami Dunning-Kruger?
Ya.
Termasuk saya.
Termasuk Anda.
Termasuk atasan.
Termasuk bawahan.
Termasuk profesor.
Termasuk influencer yang menjual kelas "Cara Menjadi Miliarder Sebelum Umur 30 Tahun Lewat Crypto" 😂
Kita semua memiliki area tertentu yang membuat kita merasa lebih mengerti daripada kenyataannya.
Perbedaannya hanya satu:
Ada orang yang mau terus belajar.
Ada yang berhenti belajar karena merasa sudah tahu semuanya.
Dan biasanya kelompok kedua adalah yang paling sulit diajak berdiskusi.
Karena dalam pikirannya, diskusi bukan untuk mencari kebenaran.
Diskusi hanyalah sarana untuk mengumumkan bahwa dirinya benar.
Cara Menghindarinya
Tidak ada obat yang benar-benar ampuh, tetapi ada beberapa cara untuk mengurangi efek ini:
1. Banyak Bertanya
Orang pintar biasanya banyak bertanya.
2. Cari Pendapat yang Berbeda
Kalau semua orang di sekitar Anda selalu setuju, bisa jadi Anda sedang hidup di dalam ruang gema (echo chamber).
3. Belajar Dasar-Dasarnya Dengan Benar
Semakin dalam memahami suatu bidang, semakin sadar bahwa dunia tidak sesederhana yang terlihat.
4. Biasakan Mengatakan "Saya Tidak Tahu"
Aneh memang.
Tetapi kalimat paling cerdas yang sering diucapkan orang cerdas adalah:
"Saya belum tahu."
Kesimpulan: Kebodohan yang Paling Berbahaya
Kebodohan bukanlah tidak tahu.
Tidak ada manusia yang mengetahui segalanya.
Kebodohan yang paling berbahaya adalah merasa sudah tahu padahal belum tahu.
Karena orang yang sadar dirinya tidak tahu masih bisa belajar.
Sedangkan orang yang merasa sudah tahu biasanya berhenti belajar.
Dunning-Kruger Effect mengajarkan satu pelajaran penting:
Semakin banyak kita belajar, semakin kita sadar bahwa dunia ini jauh lebih kompleks daripada yang kita bayangkan.
Jadi kalau suatu hari Anda merasa menjadi orang paling pintar di ruangan, mungkin ada dua kemungkinan.
Pertama, Anda memang sangat pintar.
Kedua, Anda sedang mengalami Dunning-Kruger Effect.
Dan berdasarkan sejarah umat manusia, kemungkinan kedua biasanya jauh lebih menghibur 😂
