Langsung ke konten utama

Postingan

Mens Rea

Tengah malam ngacapruk dulu gaes, karena kadang suka dapat wisdom-nya di waktu-waktu begini (disclaimer: aeng lain keur ngepet nyak), wkwkwk… Dalam hidup, kita sering menilai orang dari apa yang terlihat. Dia memukul. Dia mencuri. Dia berbohong. Dia merugikan orang lain. Lalu kita langsung menyimpulkan: “Dia salah.” Tidak sepenuhnya keliru. Tapi dalam dunia hukum, moral, dan kehidupan sehari-hari, ada satu hal yang sering lebih penting daripada sekadar tindakan: niat di balik tindakan itu . Di dunia hukum, konsep ini dikenal dengan istilah mens rea. Kedengarannya seperti mantra dari film penyihir: mens rea! Tapi ini bukan jurus Harry Potter. Ini adalah salah satu konsep paling penting dalam memahami kesalahan manusia.   Apa Itu Mens Rea? Secara sederhana, mens rea berarti niat jahat atau sikap batin seseorang saat melakukan suatu perbuatan. Dalam hukum, seseorang tidak hanya dilihat dari perbuatannya saja, tetapi juga dari kondisi pikirannya saat melakuk...
Postingan terbaru

Undang-Undang Tipikor dan Tukang Sate

  Belakangan ini saya cukup prihatin melihat kasus Nadiem Makarim yang dikaitkan dengan dugaan tindak pidana korupsi. Saya tidak ingin membahas apakah beliau salah atau benar, karena itu tugas pengadilan untuk membuktikan. Apa Isi Pasal 2 dan Pasal 3 UU Tipikor? Pasal 2 UU Tipikor pada dasarnya mengatur bahwa setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi, yang merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dapat dipidana. Pasal 3 berbicara tentang penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana karena jabatan atau kedudukan, dengan tujuan menguntungkan diri sendiri, orang lain, atau korporasi, yang merugikan keuangan negara. Secara sederhana, unsur besarnya adalah: Ada perbuatan melawan hukum atau penyalahgunaan kewenangan. Ada pihak yang diperkaya atau diuntungkan. Ada kerugian keuangan negara. Untuk Pasal 3, ada unsur jabatan, kedudukan, atau kewenangan yang disalahgunakan. Di atas kertas, ini terlihat masuk...

Laki - laki tidak bercerita...

  Pernah ada fase di hidup di mana bangun pagi saja rasanya sudah berat... Bukan karena kamu malas. Bukan karena kamu lemah. Tapi karena kamu sudah terlalu lama kuat... tanpa benar-benar punya ruang untuk berhenti. Kita sering diajarkan untuk terus maju. Harus semangat. Harus punya tujuan. Harus produktif. Tapi jarang ada yang bilang bahwa ada fase hidup di mana satu-satunya target realistis itu cuma: bertahan hari ini. Dan itu bukan kegagalan. Tidak semua hari harus bermakna. Tidak semua langkah harus besar. Kadang, tetap berjalan pelan bahkan tanpa arah yang jelas itu sudah cukup. Masalahnya, kita sering memaksa diri untuk jadi versi terbaik setiap hari. Padahal kenyataannya, ada hari di mana versi terbaikmu adalah: bangun, makan, dan tidak menyerah. Dan itu valid. Mungkin yang bikin hidup terasa berat bukan cuma masalahnya, tapi juga beban yang kamu pikul diam-diam: ekspektasi, tekanan, rasa harus selalu kuat, rasa tidak boleh gagal. Coba jujur sebentar... berapa banyak dari itu...

Menimbang Kebaikan dalam Dunia yang Tidak Sederhana...

Sejak kecil, kita diajarkan untuk menjadi orang baik. Nasihat itu terdengar sederhana, bahkan terasa mutlak kebenarannya. Namun, seiring waktu, kita mulai memahami bahwa “menjadi baik” tidak selalu sesederhana yang diajarkan. Ada saat di mana kebaikan disalahartikan. Ada keadaan di mana ketulusan tidak dihargai. Bahkan, tidak jarang, kebaikan justru membuka ruang bagi orang lain untuk bertindak semena-mena. Di titik inilah, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: Apakah menjadi orang baik selalu berarti melakukan yang benar? Ketika Kebaikan Kehilangan Batas Kebaikan tanpa batas sering kali berubah menjadi kelemahan. Seseorang yang selalu mengalah, bukan berarti ia bijak. Seseorang yang selalu berkata “ya”, bukan berarti ia tulus. Terkadang, itu hanyalah bentuk ketidakmampuan untuk berkata “tidak”. Dan di situlah kebaikan kehilangan maknanya. Karena kebaikan yang sejati tidak mengorbankan harga diri, tidak menghapus batas, dan tidak menjadikan diri sendiri sebagai korban. Dunia Tidak ...

Kebenaran VS Kebaikan: Apa itu Bijaksana?

  Oke, gaes. Pernah nggak sih kalian mikir, kenapa hidup ini sering banget penuh dengan dilema? Kayak, “Ini bener nggak ya kalau gue lakuin?” atau “Apa gue jahat kalau nggak nolongin dia?” Nah, itulah! Kadang, kita ngecap sesuatu itu benar atau salah berdasarkan logika. Tapi di saat yang sama, kita juga menilai sesuatu itu baik atau jahat berdasarkan hati atau perasaan. Dua komponen ini tuh ibarat otak dan jantung yang selalu debat abadi. Kayak dua sahabat yang nggak pernah setuju tapi nggak bisa hidup tanpa satu sama lain. Ribet? Iya banget. Logika: Si Raja Kalkulator Mari kita bahas soal kebenaran dan kesalahan dulu. Ini wilayah si otak alias logika. Otak kita tuh kayak kalkulator berjalan. Semua diatur pake rumus dan prinsip-prinsip yang jelas. Misalnya, kamu punya tugas kerjaan, deadline-nya besok, tapi kamu baru ngerjain setengah. Logikanya, yang harus kamu lakukan adalah duduk, fokus, dan selesaikan tugas itu sebelum deadline. Simpel banget, kan? Nggak ada tempat buat drama d...

Komentar Gue Tentang Kutipan Jack Ma: “Ketika kamu miskin, belum sukses, semua kata-kata bijakmu terdengar seperti kentut. Tapi ketika kamu kaya dan sukses, kentutmu terdengar sangat bijak dan menginspirasi.”

Elo pernah denger kutipan dari Jack Ma yang bilang, “Ketika kamu miskin, belum sukses, semua kata-kata bijakmu terdengar seperti kentut. Tapi ketika kamu kaya dan sukses, kentutmu terdengar sangat bijak dan menginspirasi”? Well, kalau elo baru pertama kali denger, gue yakin elo lagi ketawa sambil mikir, "Kok relatable banget ya?". Jack Ma itu emang orangnya nggak basa-basi, blak-blakan, dan straight to the point . Maksudnya jelas banget, dunia ini seringnya menilai kita bukan dari apa yang kita katakan, tapi dari apa yang kita punya. Pas elo belum sukses, apapun yang keluar dari mulut elo tuh kayak kentut di tempat umum nggak ada yang peduli, malah bisa bikin orang ilfeel. Tapi kalau elo udah jadi orang kaya, terkenal, tiba-tiba semua yang elo katakan jadi inspirasi. Kentut elo pun berubah jadi golden words . Gokil kan wkwkwk? Realita Pahit, Bro! Ya, hidup emang gitu. Dunia itu kejam, bro. Elo bisa punya nasihat paling brilian, elo bisa punya ide yang keren abis, tapi kalau d...

Kelamaan Kerja atau Berpengalaman Kerja?

  Kita semua pasti pernah dengar kan istilah, "Sudah berapa lama kerja di sini?" atau yang lebih menohok, "Lama kerja, tapi kok... ya gitu-gitu aja?" Yup, dilema antara kelamaan kerja versus berpengalaman kerja ini memang kadang jadi bahan ngobrol yang seru atau bikin kita merenung di tengah perjalanan pulang sambil mikir, "Eh, gue masuk yang mana ya?" Oke, kita bedah dulu. 1. Kelamaan Kerja: Seberapa Lama Itu Lama? Kalau bicara soal kelamaan kerja, ini ibarat hubungan yang udah jalan 10 tahun tapi belum juga nikah. Lama iya, maju enggak (jangan ada yang baper yak wkwkwk). Bekerja bertahun-tahun di posisi yang sama bisa bikin elo terasa stuck. Mungkin elo udah hafal semua pola atasan, udah tahu seluk-beluk pantry kantor (mulai dari siapa yang paling sering habisin kopi sampai jadwal bocor dispenser wkwkwk). Tapi, apakah lama bekerja itu otomatis bikin elo tambah pintar dan berpengalaman? Nah, itu dia pertanyaannya. Kelamaan kerja tanpa disertai perkembanga...